Pilot Yordania Tewas Dibakar ISIS, Orangtuanya Tuntut Balas Dendam

Agony of Parents Whose Son was Burned Alive by ISIS

Editor : Ismail Gani
Translator : Novita Cahyadi


Pilot Yordania Tewas Dibakar ISIS, Orangtuanya Tuntut Balas Dendam
Issaf Al-Kasasbeh (kiri bawah) memegang foto mendiang putranya, pilot Yordania Lt Moaz al-Kaseasbeh dan Saif al-Kasaesbeh, ayah sang pilot (kiri atas) serta proses eksekusi pilot Yordania dibakar hidup-hidup oleh ISIS (Foto2: MailOnline)

IBU DARI PILOT Yordania yang dibakar hidup-hidup oleh kelompok teroris ISIS dilaporkan harus dirawat di rumah sakit beberapa jam setelah menyaksikan video yang mengerikan kematian anaknya muncul.

Issaf al-Kasasbeh diyakini telah pingsan setelah mengetahui bahwa anaknya, Moaz, menderita seperti pembunuhan barbar, menurut media Yordania.

Dr Ali Hamiada, direktur Rumah Sakit Karak di Yordania, mengatakan kondisinya stabil.

Berita sakitnya mencuat setelah suaminya Safi al-Kasasbeh menuntut pembalasan atas pembunuhan brutal terhadap anaknya.

Pemerintah Yordania langsung bersikap untuk segera mengeksekusi dua tahanan yang terkait ISIS, termasuk seorang wanita yang berniat melakukan bom bunuh diri, tapi ayah sang pilot, al-Kasasbeh mengatakan rencana eksekusi tersebut belum setimpal.

"Saya menuntut pembalasan lebih besar dari sekadar mengeksekusi tahanan. Saya menuntut organisasi ISIS dimusnahkan, "katanya.

"Organisasi ini pembunuh, anggotanya berasal dari para militan dari seluruh dunia, bertindak dengan cara biadab, melanggar semua hukum internasional, kode etik, dan konvensi narapidana."

"Itulah sebabnya saya menuntut pemerintah segera membalas dendam atas darah Moaz dan martabat negara kita," katanya kepada Al Jazeera yang dikutip MailOnline.

Jordan bersumpah untuk segera merespon dan pejabat pemerintah pagi ini mengungkapkan bahwa dua tahanan, Sajida al-Rishawi dan Ziad al-Karbouli, telah digantung.

Al-Rishawi telah menjalani hukuman mati atas perannya dalam pemboman tiga hotel di ibukota Yordania, Amman pada 2005 yang menewaskan puluhan orang.

Eksekusi terjadi setelah rekaman mengerikan muncul menunjukkan pilot Yordania al-Kasasbeh yang dibakar sampai mati oleh para penculiknya.

Kematian mengerikan pilot usia 26 tahun Letnan penerbang Al-Kaseasbeh, ditangkap saat turut berpartisipasi dalam serangan udara koalisi yang dipimpin AS, memicu kemarahan dan demonstrasi kelompok negara anti-Islam di Yordania.

THE MOTHER of the Jordanian pilot burned alive by the Islamic State has reportedly been admitted to hospital hours after horrific video of her son's death emerged.

Issaf al-Kasasbeh is believed to have fainted after learning that her son, Moaz, had suffered such a barbaric killing, according to Jordanian media.

Dr Ali Hamiada, the director of Karak Hospital in Jordan, said her condition was stable.

News of her illness came as her husband Safi al-Kasasbeh demanded a swift and brutal retaliation to his son's murder.

Jordan followed through on its promise to execute two ISIS-linked prisoners, including a would-be female suicide bomber, but Mr al-Kasasbeh said this did not go far enough.

'I demand the revenge be greater than executing prisoners. I demand the ISIS organisation be annihilated,' he said.

'This murderous organisation, made up of militants from all the world countries, is acting in barbaric ways, violating all the international laws, codes of ethics, and prisoners' conventions.

'That is why I strongly demand the government to swiftly take revenge for the blood of Moaz and the dignity of our country,' he told Al Jazeera.

Jordan had vowed a swift and lethal response and government officials this morning revealed that two prisoners, Sajida al-Rishawi and Ziad al-Karbouli, have already been hanged.

Al-Rishawi had been on death row for her role in a triple hotel bombing in the Jordanian capital Amman in 2005 that killed dozens.

The executions took place after gruesome footage emerged showing Jordanian pilot al-Kasasbeh being torched to death by his captors.

The gruesome death of 26-year-old Lt Al-Kaseasbeh, captured while participating in airstrikes by a U.S.-led coalition, sparked outrage and anti-Islamic State group demonstrations in Jordan.