Sinergi BBPP Ketindan - BBPP Kupang Gelar Diklat Budidaya Jagung untuk Petani NTT

Indonesian`s Agriculture Training Center Conducts Training for Farmers in Kupang

Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani


Sinergi BBPP Ketindan - BBPP Kupang Gelar Diklat Budidaya Jagung untuk Petani NTTMentan Andi Amran Sulaiman koordinasi dengan Bupati Belu dan Malaka (atas) Kepala BBPP Ketindan Djajadi Gunawan (duduk ke-3 kanan) dan Kepala BBPP Kupang Adang Warya (duduk ke-3 kiri) Foto: Humas BBPP Ketindan/Yeniarta MM)

KEMENTERIAN Pertanian RI akan mengembangkan lahan pertanian komoditas jagung dan sentra peternakan di wilayah perbatasan, khususnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur yakni Kabupaten Belu untuk pengembangan sentra sapi indukan dan sapi perah dengan target 100.000 ekor secara bertahap dalam lima tahun ke depan. Pengembangan komoditas jagung untuk pakan ternak akan fokus di Kabupaten Malaka hingga 50.000 hektar.

"Wilayah perbatasan seperti Belu dan Malaka akan kita bangun menjadi lumbung pangan untuk ekspor ke negara tetangga. Ini sesuai instruksi Presiden Joko Widodo untuk membangun dari pinggiran," kata Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman saat menerima kunjungan Bupati Belu Willy Lay dan Bupati Malaka Stefanus Bria Seran di kantornya di Jakarta pada awal Februari lalu.

Target Kementan tersebut disikapi cepat oleh Kepala Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan, Djajadi Gunawan dan Kepala Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Kupang, Adang Warya yang belum lama ini mengadakan pelatihan budidaya jagung di BBPP Kupang yang diikuti 30 petani dari beberapa kelompok tani di Kabupaten Bellu dan Kabupaten Malaka.

"Pelatihan di BBPP Kupang bertujuan menindaklanjuti target Kementan untuk menjadikan dua kabupaten di perbatasan NTT sebagai lumbung pangan khususnya jagung dan sapi untuk target ekspor," kata Djajadi Gunawan dalam sambutannya.

Menurut Djajadi, peningkatan produksi pangan di suatu daerah ditentukan oleh kemampuan petani dan masyarakat memenuhi kebutuhan pangan secara periodik dan berkelanjutan, karena pedesaan merupakan basis pembangunan pertanian.

Adang Warya menambahkan, kedua balai pelatihan mengerahkan pejabat struktural dan widyaiswara dari Ketindan dan Kupang untuk mendukung pelatihan tersebut.

"Faktor kunci dalam menentukan lumbung pangan dunia adalah dukungan yang terkait dengan lahan dan pengairan, infrastruktur pertanian, inovasi teknologi kesinambungan, efisiensi dan daya saing, pasca panen, pasar serta peran petani dan regulasi," kata Adang Warya, yang sebelumnya menjabat Kepala BBPP Ketindan sebelum mutasi ke BBPP Kupang.

Djajadi Gunawan menambahkan, program pelatihan terselenggara atas dukungan kerjasama dari semua lini, dan dibuka bersamaan dengan kegiatan pelatihan BBPP Kupang terkait kesehatan hewan bagi penyuluh/ petugas dan pelatihan teknis Siwab bagi inseminator non aparatur negara.

INDONESIAN Agriculture Ministry will developing corn and cattle production centers in border region of East Nusa Tenggara province (NTT) especially Belu district for cattle and dairy cows for target 100,000 heads gradually over the next five years. Meanwhile, development of corn production centers for livestock feed will focus in Malaka district up to 50,000 hectares.

"The border regions such as Belu and Malaka will developed into food barn for exports, according to President Joko Widodo´s instructions to build from the border region," said Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman here while met with Belu Regent Willy Lay and Malaka Regent Stefanus Bria Seran early February.

The central government´s target was responded by Director of Ketindan´s Agriculture Training Center (BBPP Ketindan) Djajadi Gunawan and Kupang´s  Livestock Training Center (BBPP Kupang) Adang Warya  who recently conducted a corn cultivation training in BBPP Kupang  which was attended by 30 farmers from several farmer groups from Belu and Malaka.

"The training in BBPP Kupang aims support target of Jakarta make districts on the border of NTT province as food barn especially corn and cattle for export target," Djajadi Gunawan in his speech.

According to Mr Gunawan, increasing food production is determined by ability of farmers and community to meet the needs of food in a periodic and sustainable, because the countryside is basis of agricultural development.

Mr Warya added that training centers mobilized experts from Ketindan and Kupang support the training.

"Key factors for the development of food barns are land and water support, agricultural infrastructure, sustainable technological innovation, efficiency and competitiveness, post-harvest, markets, farmers, and regulation," Mr Warya said who previously served as director of the BBPP Ketindan prior to BBPP Kupang.

Mr Gunawan added that training program was held with support of all parties, and the agriculture training in BBPP Kupang related to animal health for extension workers, and technical training for non civil servant inseminators.