Siswa SMKN 1 Slawi Kenali Potensi Pertanian dan Alsintan di BBPP Ketindan

Slawi`s SMKN 1 Slawi Study Tour in the Indonesia`s BBPP Ketindan Training Center

Reporter : Gusmiati Waris
Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani


Siswa SMKN 1 Slawi Kenali Potensi Pertanian dan Alsintan di BBPP KetindanSiswa SMKN Slawi 1 Tegal bersama pimpinan dan staf BBPP Ketindan (Foto: Humas BBPP Ketindan/Yeniarta MM)

PERTANIAN berperan penting bagi suatu negara, karena menopang hidup masyarakat dalam penyediaan sandang, pangan dan papan. Kendati begitu, generasi muda Indonesia memandang pertanian identik dengan taraf ekonomi yang rendah, petani berpakaian lusuh tanpa alas kaki terbakar matahari di tengah sawah.

Generasi muda harus mendapat pemahaman bahwa Indonesia adalah negeri yang subur, dengan luas baku lahan sawah pada 2015 sekitar 8 juta hektar menurut data Badan Pusat Statistik (BPS). Petani pun bisa kaya raya seperti Pak Ladi, petani jeruk Malang yang meraih untung ratusan juta rupiah dari hasil panen jeruk  padahal luas lahan kebun jeruknya hanya satu hektar.

Fakta-fakta tersebut diungkapkan oleh Kepala Bidang Program dan Evaluasi Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan, Dadan Sunarsa, belum lama ini, kepada 56 siswa dari Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Slawi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.

Jarak sejauh 560 km dari Tegal ke BBPP Ketindan yang berada di Kota Lawang, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur tak menghalangi niat para pelajar SMKN 1 Slawi - Tegal untuk membangkitkan motivasi mereka untuk mencintai pertanian dan mengetahui besarnya potensi pertanian nasional bagi masa depan mereka.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sekolah SMKN 1 Slawi, Imron Effendi mengatakan tujuan kunjungan siswanya adalah untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi siswa dalam pengenalan dan penggunaan alat mesin pertanian (Alsintan) dalam program studi 'kunjungan industri' ke BBPP Ketindan.

"Program kunjungan industri bertujuan mengenalkan Alsintan kepada siswanya untuk mendukung pengetahuan dan pemahaman siswa tentang alat mesin industri di sekolah kami. Pengetahuan penggunaan Alsintan sangat diperlukan oleh siswa sebagai bekal dalam penggunan Alsintan, bukan hanya alat mesin pertanian," kata Imron Effendi.

Menurut Dadan Sunarsa, kunjungan 56 siswa SMKN 1 Slawi merupakan kehormatan bagi BBPP Ketindan sebagai salah satu balai pelatihan dari Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) di Kementerian Pertanian RI, yang mendidik dan melatih aparatur dan non-aparatur bidang tanaman pangan dan tanaman obat.

"Peluang sekaligus tantangan terbesar pertanian Indonesia saat ini adalah ketersediaan lahan, kemampuan SDM, kelembagaan petani, dukungan modal, ketersediaan benih, teknologi budidaya, penanganan organisme pengganggu tanaman, perubahan iklim, pasokan dan daya saing komoditas," kata Kepala BBPP Ketindan, Djajadi Gunawan seperti dikutip Dadan Sunarsa.

Pengelola Kehumasan BBPP Ketindan Yeniarta Margi Mulya mengatakan kegiatan kunjungan dilanjutkan dengan pengenalan Alsintan dan kegiatan praktik di bawah bimbingan langsung oleh widyaiswara budidaya Djoko Sumianto dibantu tim teknis lahan Jaelani dan Hadi Gunawan.

"Secara keseluruhan dari semua materi dan kegiatan praktik, semua siswa merasa puas tetapi mereka merasa waktu pelaksanaan tergolong singkat. Mereka betul-betul ingin mendalami penggunaan Alsintan secara utuh," kata Dadan Sunarsa.

AGRICULTURE plays an important role for a country, because it sustains people's lives in the provision of clothing, food and homes. However, Indonesian youth still underestimate the agriculture is identical to the low economic level, farmers dressed shabby without footwear in the rice fields.

The young generation must know the potential of Indonesian agriculture with an area of about 8 million hectares by 2015, according to the Statistics Agency. Farmers may also wealthy such as Pak Ladi, citrus farmers from Malang of East Java province with turnover of hundreds millions rupiah from the crop in one hectare.

The facts were disclosed by the Director of Program and Evaluation of Ketindan Agricultural Training Center called the BBPP Ketindan, Dadan Sunarsa, recently on study tour of 56 students of Slawi's Public Vocational High School (SMKN 1 Slawi) in Tegal district of Central Java province.

The distance of 560 km from Tegal to BBPP Ketindan in Lawang city of Malang district, East Java province does not preclude students' intention to generate their motivation to love the farm and to know the magnitude of national agriculture potential for their future.

Acting of Principal SMKN 1 Slawi, Imron Effendi said the purpose of study tour to improve knowledge, skills and competencies students recognize and know the benefits of agricultural machinery to increase agricultural production.

"The study tour program aims knowing the benefits of agricultural machinery for students' knowledge and understanding. Knowledge of farm machinery is needed by students for their education in schools," Mr Effendi said.

According to Mr Sunarsa, the study tour of Slawi's SMKN 1 students is an honor for the BBPP Ketindan as agriculture training center of Agriculture Ministry's Agency for Agricultural Extension and Human Resources Development (BPPSDMP) for training center of food crops and medicinal plants.

"The opportunities and challenges of Indonesia's agriculture today are the availability of land, the ability of human resources, the institution of farmers, the support of capital, the availability of seeds, cultivation technology, plant pests, climate change, supply and competitiveness of commodities," said Director of BBPP Ketindan Djajadi Gunawan as quoted by Mr Sunarsa.

The BBPP Ketindan spokeswomen Yeniarta Margi Mulya said the study tour was continued to introduction of agricultural machinery and practice activities guided by cultivation expert Djoko Sumianto and his staff Jaelani and Hadi Gunawan.

"Overall of all materials and practice activities, all students are satisfied but they feel the time of study tour is very short," Mr Sunarsa said.