Danantara Diresmikan
Indonesia Cerah?

ROSADI JAMANI
Ketua Satupena Kalbar
MAHASISWA belum berhenti demo, Indonesia gelap. Begitu juga pemerintah belum berhenti menggebrak. Terkini, Danantara diluncurkan.
Akankah ini membuat Indonesia Cerah? Sambil menikmati Nasi Kafsah Najwa di Sungai Jawi Pontianak, yok kita kunyah "ape bende" Danantara ini.
Dunia terdiam. Angin berhenti berhembus. Langit seolah mengamati dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
Di tengah gegap gempita politik dan ekonomi yang penuh lika-liku, muncullah satu nama yang digadang-gadang sebagai penyelamat, mercusuar harapan, serta tonggak baru kemakmuran Indonesia, Daya Anagata Nusantara (Danantara).
Dengan gebrakan penuh gempita, Presiden Prabowo Subianto meluncurkan lembaga investasi ini. Ini sebuah maha karya yang katanya akan membawa Indonesia ke puncak kejayaan, Indonesia Cerah.
Pidato disampaikan, janji-janji ditebar, tepuk tangan menggema. Mata dunia tertuju pada negeri ini, menunggu apakah kita akan melesat ke angkasa atau terjerembab ke lubang yang sama seperti sebelumnya.
Danantara disebut-sebut sebagai gerbang menuju masa depan emas, di mana uang tak lagi sekadar angka di layar, tetapi makhluk hidup yang tumbuh, berkembang biak, dan beranak-pinak dengan kecepatan cahaya.
Dengan dana awal yang digadang-gadang US$20 miliar dan potensi pengelolaan mencapai US$900 miliar. Kita seolah berdiri di ambang kebangkitan ekonomi yang lebih epik dari dongeng-dongeng kerajaan kuno.
Bayangkan, tumpukan emas dan berlian yang bisa digunakan untuk membangun istana mewah di setiap sudut negeri, atau setidaknya cukup untuk membangun jalan tol ke bulan.
Dalam skenario sempurna, Danantara akan menjadi surga bagi investasi hijau dan proyek-proyek berkelanjutan.
Matahari akan bersinar lebih terang untuk panel surya, angin akan berembus lebih kencang untuk turbin listrik, dan bumi akan tersenyum menyaksikan transformasi peradaban ini.
Iklim ekonomi akan sejuk, bisnis berkembang, dan rakyat bersorak bahagia.
Pemerintah menjamin bahwa transparansi adalah kunci, dan segala bentuk pengawasan akan dilakukan oleh dewan maha sakti yang terdiri dari mantan presiden dan tokoh agama.
Sebuah susunan yang nyaris terdengar seperti dewa-dewa Olympus yang turun dari gunung untuk mengawasi keberlangsungan dunia fana.
Namun, bayangan gelap selalu mengikuti cahaya. Sejarah mengajarkan kita bahwa mimpi besar sering kali berujung pada kenyataan pahit.
Bisikan-bisikan skeptis mulai bergaung, menyusup di antara riuh rendah optimisme.
Apa jaminannya bahwa Danantara tidak akan menjadi saga tragis seperti skandal finansial yang pernah mengguncang dunia?
Bukankah janji-janji manis sudah sering kita dengar, hanya untuk diakhiri dengan permohonan maaf dan klaim bahwa ´ada kekeliruan teknis´?
Apakah rakyat akan melihat keberhasilan gemilang, atau sekadar layar gelap dengan teks ‘Dana Tidak Ditemukan’?
Terlepas dari segala keraguan, roda sudah berputar. Kita berada di titik tanpa jalan kembali. Danantara telah lahir, seperti seorang pahlawan dalam kisah epik yang siap menantang takdir.
Kita hanya bisa menunggu, menyaksikan, dan berharap bahwa kali ini, mungkin, hanya mungkin, cerita ini akan berakhir bahagia. Atau setidaknya, tidak menjadi lelucon sejarah yang kita ulang setiap dekade.
Sediakan kopi, siapkan pisang goreng atau goreng pisang, eh mana sih yang benar. Drama baru saja dimulai. #camanewak
Disclaimer : B2B adalah bilingual News, dan opini tanpa terjemahan inggris karena bukan tergolong berita melainkan pendapat mewakili individu dan/atau institusi. Setiap opini menjadi tanggung jawab Penulis